Aku cukup merasa lelah jika harus bertengkar dengan saudara sendiri. Saudara seperjuangan. Hanya beda kendaraan saja. Tapi harus bagaimana lagi jika ternyata jalan menuju hulu itu memang berbeda? Padahal, seharusnya menyingkirkan perbedaan jalan dan menyatukan tujuan. Kurasa begitu.

Tapi, pengalaman ini begitu menyakitkan ketika famlet acara organisasi kami kedapatan dicopot oleh rekan-rekan yang sama-sama berjuang untuk Islam. Aku tahu betul. Jadi mengingatkan. Sungguh tercengang aku saat mendapat jawaban saudaraku ini: “Gerakanmu itu sesat!”

Ketika aku bertanya: “Di mana sesatnya?”

Ia malah berkelit: “Pokoknya sesat, kata murobbiku gerakan yang kamu ikuti itu sesat!” dia berlalu pergi dan aku yang bengong.

Aku berpikir keras: bagaimana mungkin sesat, karena selama ini gerakan yang aku ikuti tak menunjukkan tanda-tanda kesesatan, ibadahnya sama, ajaran Islamnya sama. Yang aku kecewa si “dia” saudaraku itu tak mau menunjukkan bukti bahwa gerakan dakwah yang aku ikuti itu sesat. Ya, sudahlah, yang penting aku berjuang!

suatu hari pada hujan gerimis di pagi hari. dekat masjid kampus.