Tidak sedikit warga Muslim di Amerika terus merasa dikejar-kejar, dilecehkan dan didiskriminasikan setelah serangan teroris tanggal 11 September di Kota New York dan Washington.

Di Miami, sekelompok pemimpin Muslim setempat baru-baru ini mengemukakan keprihatinan dan kekecewaan mereka terhadap para anggota Komisi Urusan Hak-Hak Sipil Amerika Serikat.

Altaf Ali, adalah pemimpin The Council on American-Islamic Relations cabang Florida. Ia mengatakan, banyak warga Muslim di Florida dan seluruh Amerika hidup dalam ketakutan sejak terjadi serangan tanggal 11 September di Kota New York dan Washington, D.C. ” Anda mungkin tidak pernah mendapat pandangan kebencian seperti yang saya alami. Anda mungkin tidak pernah melihat pandangan kebencian itu karena wajah anda, atau penampilan anda. Pandangan itu bisa menghilangklan semangat, dan lebih menyakitkan dibandingkan dengan dipukul dengan kayu.”

Tetapi warga Muslim Amerika mengatakan, persoalan yang mereka alami lebih dari hanya pandangan tidak menyenangkan dari orang yang tidak dikenal. Banyak keluhan mengenai cara keras yang dilakukan para petugas FBI atau polisi Federal yang menginterogasi banyak warga Muslim yang jumlahnya tidak terhitung, sementara melakukan pencarian dalam perang melawan terorisme. Beberapa warga Muslim ditahan berminggu-minggu tanpa ada dakwaan yang diajukan terhadap mereka.

Muhammad Shkir, seorang koordinator Dewan hubungan kemanusiaan kabupaten Dade, Miami mengatakan, Muslim Amerika yang patriotik yang mematuhi hukum , merasa seperti tersangka. Ia mengatakan kepada Komisi Hak-Hak Sipil bahwa tindakan FBI itu tidak adil dan tidak produktif. ”Semua yang terlibat dalam serangan tanggal 11 September yang merupakan kejahatan menggemparkan itu tidak ada yang berkewarganegaraan Amerika, tidak seorangpun. Dan di sini kami warga Amerika menjadi sasaran, diperlakukan dengan tidak adil. Dari seharusnya bekerjasama menjadi sekutu membersihkan unsur-unsur yang sesat, kita malah menciptakan hubungan yang bermusuhan.”

Pengacara hukum Muslim Amerika Khurrum Wahid mengatakan, sebagian besar pelecehan dan diskriminasi terjadi tanpa dilaporkan. Ia mengatakan, dalam keadaan sekarang , banyak warga Muslim takut melaporkan kepada pihak berwajib. ”Kami tidak pernah tahu lingkup tindakan diskriminasi yang telah berjalan sejak tanggal 11 September. Kebanyakan orang tidak mau tampil karena mereka tidak ingin membuat heboh. Mereka tidak mau disorot dan menjadi pusat perhatian. Mereka tidak mau dimintai keterangan, mengenai sudah berapa lama mereka berada di Amerika, dari negara mana mereka berasal.”

Tetapi Wahid menambahkan, bahwa faktor budaya juga memainkan peranan. Sebagai suatu kelompok, katanya, golongan Muslim tidak pernah menarik perhatian dalam kancah politik. Ia mengatakan, banyak yang tidak biasa berbicara di depan umum, sedikit sekali yang mengadakan unjuk rasa di depan umum, bahkan pada waktu mereka mempunyai keluhan yang sah.

Komentar itu menarik perhatian seorang pengamat dalam sidang dengar pendapat yang diadakan Komisi. Seorang warga Amerika keturunan Afrika, Bobby Ingram seorang aktivis hak sipil dari Jacksonville , Florida, menyatakan kekecewaan terhadap warga Muslim yang diam mengenai isu hak sipil sebelum tanggal tanggal 11 September. Ia mengatakan, masyarakat Muslim, telah lama gagal merangkul masyarakat Amerika yang lebih luas dan menciptakan persahabatan yang akan menguntungkan mereka. ” Kalau mereka ingin menciptakan persahabatan, mereka harus bersedia mencoba menjalin persahabatan . Maksud saya, mereka harus mulai melakukan kegiatan yang memungkinkan orang saling mengenal satu sama lain. Kami tidak mengenal mereka, dan kalau mereka tidak memulainya sekarang, mereka akan mendapati diri mereka terkatung-katung sendiri.”

Direktur Komisi Hak-Hak Sipil untuk wilayah Amerika tenggara, Bobby Doctor mengatakan, ia yakin diskriminasi dan tindakan kejam terhadap kaum Muslim setelah tanggal 11 September memang benar dan bahwa Pemerintah Amerika bukannya tidak salah. Ia mengatakan, Komisi mempunyai kekuasaan terbatas , tetapi tidak akan tinggal diam dalam masalah itu. ”Badan ini tidak memiliki wewenang . Dan sangat jelas bahwa Departemen Kehakiman mempunyai peranan dalam menjamin bahwa tidak ada diskriminasi terhadap kamsyarakat Muslim.”

Bobby Doctor mengatakan, tindakan Jawatan Imigrasi dan Naturalisasi Amerika terhadap warga Muslim yang bukan warganegara Amerika juga harus diperiksa. (VOA)