Aku cukup merasa lelah jika harus bertengkar dengan saudara sendiri. Saudara seperjuangan. Hanya beda kendaraan saja. Tapi harus bagaimana lagi jika ternyata jalan menuju hulu itu memang berbeda? Padahal, seharusnya menyingkirkan perbedaan jalan dan menyatukan tujuan. Kurasa begitu.

Tapi, pengalaman ini begitu menyakitkan ketika famlet acara organisasi kami kedapatan dicopot oleh rekan-rekan yang sama-sama berjuang untuk Islam. Aku tahu betul. Jadi mengingatkan. Sungguh tercengang aku saat mendapat jawaban saudaraku ini: “Gerakanmu itu sesat!”

Ketika aku bertanya: “Di mana sesatnya?”

Ia malah berkelit: “Pokoknya sesat, kata murobbiku gerakan yang kamu ikuti itu sesat!” dia berlalu pergi dan aku yang bengong.

Aku berpikir keras: bagaimana mungkin sesat, karena selama ini gerakan yang aku ikuti tak menunjukkan tanda-tanda kesesatan, ibadahnya sama, ajaran Islamnya sama. Yang aku kecewa si “dia” saudaraku itu tak mau menunjukkan bukti bahwa gerakan dakwah yang aku ikuti itu sesat. Ya, sudahlah, yang penting aku berjuang!

suatu hari pada hujan gerimis di pagi hari. dekat masjid kampus.

Jumat di Windhoek Islamic Center, Namibia. Hiruk pikuk jamaah mulai terdengar di kantai dasarnya. Sekitar 50 pria berkemaja dan bercelana. Sisanya, sekitar 50 orang lainnya, berbaju tradisional menyerupai jubah.

Mereka bercakap-cakap dengan bahasa yang sulit dimengerti pendatang, bahasa suku mereka. Kebanyakan berasal dari suku Nama, satu dari 13 suku besar di Namibia.

Namun bukan itu yang menarik. Windhoek Islamic Center bukan bangunan yang megah, dengan masjid atau mushala sebagai satu bagiannya. Tempat yang mereka sebut “masjid” ini merupakan bagunan kecil yang menempel di gereja megah yang dibangun pemerintah setempat. “Kami seperti apel yang menggantung di pohon pir,” ujar Imam Ali, pemuda berusia dua puluh tahunan yang menjadi imam shalat.

Apa daya, mendapatkan tanah untuk mendirikan masjid bukan hal gampang. Izin pun berbelit. Namun kKetiadaan masjid, bukan halangan bagi mereka. “Islam sangat berdampak positif di sini, dan jumlah penganutnya kian bertambah,” ujarnya. (lebih…)

Seolah tak peka masalah, sekretaris pribadi Paus Benekdictus XVI kembali mengeluarkan pernyataan jika Islam bisa menjadi ”ancaman” Eropa

Hidayatullah.com—Tahta suci Vatikan kembali tercoreng. Setelah pernyataan Paus Benediktus XVI tahun 2006 di mana mengutip Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus dan telah membuat marah kaum Muslim seluruh dunia, Jumat lalu, sekretaris pribadi Paus, Georg Gaenswein, melontarkan pernyataan jika Islam akan menjadi ancaman Barat dan Eropa. (lebih…)

Tidak sedikit warga Muslim di Amerika terus merasa dikejar-kejar, dilecehkan dan didiskriminasikan setelah serangan teroris tanggal 11 September di Kota New York dan Washington.

Di Miami, sekelompok pemimpin Muslim setempat baru-baru ini mengemukakan keprihatinan dan kekecewaan mereka terhadap para anggota Komisi Urusan Hak-Hak Sipil Amerika Serikat. (lebih…)

”Alhamdulillah kondisi umat Islam di Amerika Serikat baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat, baik sebelum maupun sebelum peristiwa 11 September,” kata Mohammad Kudaimi, angota Nawawi Fondation, sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat. Ia bertutur kepada Republika di sela-sela kunjungannya ke Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah, Jatiwaringin Bekasi, Jawa Barat, awal bulan ini. (lebih…)

Dalam diam aku merenung. Aku pikirkan sejauh tapak kakiku melangkah. Bekas-bekasnya masih ada yang tersisa. Terlihat jelas. Tapi sebagian sudah pudar dihembus angin, ditimpa hujan dan dibenamkan debu yang menumpuk berhari-hari.

Aku sudah jauh melangkah. Aku sudah terlalu lelah menyeret kaki ini menuju jalan hidayahMu. Namun, di tengah jalan aku bimbang. Betapa banyak godaan dan betapa subur fitnah di jalan dakwah ini.

Aku hanya ingin berhenti sejenak. Dalam diam aku berpikir. Putusanku menghentikan langkah di jarak ini adalah sebuah bentuk dan pernyataan bahwa aku futur dari dakwah?

Allah, beritahu jalan bagi hambaMu ini. Terlalu sulit bergabung dengan sekelompok manusia yang hanya memberi “jalan” tapi tak mampu merawat pemakai jalan yang ditunjukinya.

hening kamar kos, 29 Juli 2007